Senin, 22 Juli 2019 merupakan masa aktive sekolah mulai berjalan seperti sedia kalanya. Satu minggu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah selesai dilaksanakan. Benyak meninggalkan pesan dan kesan ketika MPLS itu dilaksanakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesan itu terpancar ketika para santri selesai mengikuti semua aktivitas kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah.

Baca Juga : Stimulasi Awal Tahun

Sebelumnya, kegiatan MPLS di laksanakan, telah dilaksanakan lebih awal kegiatan bersama yaitu kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Pesantren atau bisa di sebut dengan MPLP. Adapun yang mengikuti kegiatan ini adalah semua unit yang ada di pesantren hidayatullah surabaya.

MPLP dihadiri oleh semua orang tua wali santri mulai dari KB-TK samapai dengan SMA. Acara yang digelar di masjid Aqshal Madinah itu dihadiri sekitar 1000 wali murid. Dengan harapan bisa memberikan stimulus kapada para orang tua untuk bisa memahami kondisi dan lingkungan yang ada di pesantren Hidayatullah Surabaya.

Berbeda halnya dengan MPLS, yang di laksanakan diberbagai unit sekolah masing-masing, dan ini merupakan langkah awal yang di laksanakan oleh unit sekolah kapada seluruh siswa baru ada dapat memahami keadaaan lingkungan yang ada di sekolah.

Kegiatan (MPLS) ini, menimbulkan reaksi yang berbeda-beda disetiap anak. ada yang sudah biasa karena sedari kecil sudah mondok dan ada juga yang tidak terbiasa dengan kegiatan yang ada di pondok kerena dipondok mempunyai kegiatan yang padat.

Hal ini juga dirasakan oleh Muhammad Davin Khosyi’. Santri yang berasal dari banjar (kalimantan Selatan) ini menuturkan bahwa “kegiatannya banyak sekali, apa lagi setiap malam di bangunin untuk tahajud, tidurnya kurang”. Proses pembelajaran yang luar biasa.

Senada dengan Ahmad Wildan Zulfahmi juga menceritakan pengalamannya selama satu minggu mengikuti kegiatan MPLS. Santri yang berasal dari kota pahlawan kecamatan rungkut ini mengatakan yang paling berat itu bangun malam untuk sholat tahjjud. “uenak-uenak turu moro-moro ono sing  nangekno, mangkat neng masjid pisan” bahasa khas kota surabaya bermakna “enak-enak tidur tiba-tiba di bangunkan, disuruh kemasjid lagi…!”

Baca Juga : SD Islam Surabaya Harumkan Indonesia

Sekilas memang menegangkan, akan tetapi itulah budaya yang di bangun oleh pesantren hidayatullah surabaya terkhusus untuk santri yang boarding (berasrama).

Begitu juga dengan yang non-boarding atau sering disebut dengan fullday School memiliki kesan yang cukup berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *