Jangan Sia-siakan Hari Jum’at

  • by

Semua bulan itu bagus. Tapi, memang ada bulan paling mulia, yaitu Ramadhan. Seluruh hari itu baik. Namun, memang ada hari paling istimewa, yaitu Jum’at. Mengapa Jum’at istimewa?

Hari Utama

Allah menempatkan berbagai keutamaan pada hari Jum’at, termasuk sebagai Hari Raya. “Wahai kaum Muslimin, inilah suatu hari (Jum’at) yang dijadikan Allah untukmu sebagai Hari Raya. Dari itu hendaklah kamu mandi serta menggosok gigi” (HR Thabrani).

Salah satu unsur dan nilai penting dari Hari Raya adalah berhimpun dan bertemunya seorang muslim dengan muslim lainnya. Pemahaman seperti itu mendapatkan pembenaran jika kita menyimak pendapat Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Beliau menulis, bahwa hari itu dinamai Jum’at diambil dari kata ‘al Jum’ yang berarti berkumpul. Tegasnya, orang Islam berkumpul tiap hari itu di masjid.

Hari Jum’at menjadi istimewa karena banyak peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. “Sebaik-baik hari-hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jum’at. Pada hari itulah Adam dicipta, di waktu ini pula ia dimasukkan dalam surga dan waktu itu juga ia dikeluarkan darinya. Kiamatpun tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i). “Penghulu sekalian hari adalah hari Jum’at dan ia merupakan hari terbesar di sisi Allah Ta’ala, bahkan bagi-Nya ia lebih besar dari hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Pada hari Jum’at itu terjadi lima peristiwa, yaitu: Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam, Allah Ta’ala menurunkan Adam ke bumi, Allah Ta’ala mewafatkan Adam, dan pada hari Jum’at itu ada satu saat dimana akan tidak seorang hambapun memohonkan sesuatu padanya, kecuali akan dikabulkan Allah permohonannya itu selama yang dimintanya itu bukan sesuatu yang haram, serta pada hari Jum’at itu pula terjadinya kiamat. Maka tiada satu Malaikat Muqarrabin-pun, tiada pula langit, bumi, angin, gunung, atau lautan, melainkan semuanya takut belaka pada hari Jum’at” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Beberapa Sunnah. 1).Perbanyak doa. “Pada hari Jum’at itu ada suatu saat, dimana tidak seorang Muslimpun yang memohonkan sesuatu kebaikan kepada Allah dan waktunya bertepatan dengan saat itu, melainkan pasti Allah akan mengabulkan permohonannya. Saat itu ialah sesudah Ashar” (HR Ahmad).

2).Perbanyak membaca shalawat. Rasulullah SAW bersabda: “Harimu yang paling utama ialah hari Jum’at. Pada hari itulah Adam dicipta dan pada hari itu pula dicabut rohnya, serta pada waktu itu pula ditiup sangkakala dan dimatikan semua manusia. Karena itu perbanyaklah membaca shalawat atasku, dan bacaanmu itu akan disampaikan kepadaku. Para sahabat bertanya: “Yaa Rasulullah, bagaimana caranya bacaan shalawat itu disampaikan kepada Anda, padahal waktu itu jasad Anda telah hancur-luluh?” Jawab Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah melarang bumi untuk memakan jasad para Nabi” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i).      

3).Membaca Al-Qur’an Surat Kahfi. “Barangsiapa membaca Surat Kahfi pada hari Jum’at, maka cahaya akan memancar dari bawah kakinya hingga menjulang ke atas langit, dan akan meneranginya pada hari kiamat, serta diampuni dosa-dosanya yang terdapat di antara dua Jum’at” (HR Ibnu Mardawaih).

Tentang Shalat Jum’at. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al-Jumuah [62]: 9). Ayat itu menjadi dasar pelaksanaan shalat Jum’at.

Tegakkan shalat Jum’at, sebab itu lebih baik bagi kita. Kini, rasanya, tak perlu kita mengulang apa yang pernah dilakukan sejumlah sahabat Nabi SAW yang ketika itu tingkat keimanannya belum seberapa kuat. “Dan, apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi Rizki (QS Al-Jumu’ah [62]: 11).

Ayat di atas turun karena dua peristiwa. Pertama, suatu saat ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah pada hari Jum’at, datanglah kafilah (rombongan) yang membawa dagangan dari negeri Syam. Orang-orang yang sedang mendengarkan khutbah keluar menemui kafilah itu, sehingga tinggal dua belas orang saja yang tetap duduk mendengarkan khutbah Jum’at (diriwayatkan As-Syaikhani, bersumber dari Jabir).

Kedua, waktu itu ada pesta pernikahan. Sebagaimana lazimnya pada saat itu, ada hiburan dengan seruling dan alat musik lainnya. Oleh karena tertarik dengan keramaian itu, maka mereka yang semula duduk mendengarkan khutbah Jum’at yang disampaikan Rasulullah SAW, pergi menontonnya (diriwayatkan Ibnu Jarir, bersumber dari Jabir).

Kalau dua peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat di atas ditarik pada kondisi kekinian, maka kurang lebih berisi pesan bahwa hendaknya kita jangan menukar shalat Jum’at dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat duniawi. Tinggalkan urusan kantor sejenak, lupakan masalah bisnis sesaat, kesampingkan problema pemerintahan sebentar. Bersegera mengingat Allah dengan menegakkan shalat Jum’at karena hal itu jauh lebih baik. Mengapa?

Tak lain, karena di dalam ibadah shalat Jum’at terdapat khutbah Jum’at yang berisi pendidikan dan pengajaran. Hal itu, jelas lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan segala jenis “permaian dunia” yang nilai kebahagiannya bersifat semu dan sementara.

Bagi mereka yang telah beriman mantap, telah tertanam keyakinan bahwa Allah adalah “Sebaik-baik Pemberi Rizki’. Shalat dahulu, baru bekerja lagi. Tegakkan shalat dahulu, lalu sila meneruskan urusan dunia. “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10).

Selaras, Seimbang!

Tampak, Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Jadi, secara umum, jangan biarkan hari Jum’at berlalu tanpa kita isi dengan banyak amal shalih. Secara khusus, jangan sekali-kali kita menyia-nyiakan shalat Jum’at. [anw.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *