Puasa dan Managemen Imunitas

berpuasa
Berpuasa, Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Oleh Dr., dr., Achmad Zainullah, Sp.P.*

Rasanya, tak seorangpun yang pernah membayangkan akan hidup di tengah-tengah pandemi Covid-19. Sangat mungkin, tak seorang Muslim-pun di puluhan tahun terakhir ini sempat “bermimpi” akan menunaikan puasa di saat wabah penyakit yang lebih berpeluang menyerang orang dengan imunitas rendah sedang berkecamuk. Atas itu semua, tetaplah melangkah dengan rasa syukur. Sebab, sebuah penelitian S3 dan telah lulus diuji limabelas tahun lalu, berkesimpulan bahwa imunitas selama puasa Ramadhan meningkat dan dalam rentang sehat secara fisiologis.

 

Untuk apa Berpuasa? Demikian judul sebuah buku, yang substansinya bukan tak mungkin cukup mewakili pertanyaan banyak orang. Pendek kata, apa manfaat puasa? Bukankah, penelitian di Barat menyebutkan puasa bisa menimbulkan rasa tak nyaman bekerja, penyakit infeksi saluran pernapasan, gangguan muscular performance, dan gangguan kewaspadaan?

Penelitian yang menghasilkan kesimpulan adanya dampat tak bagus akibat puasa, terjadi karena: Pertama, salah memilih objek yang diteliti. Objek yang mereka teliti seharusnya Muslim yang beriman. Hal ini, karena Al-Qur`an dengan tegas menyatakan perintah puasa itu hanya untuk orang beriman (QS 2: 183). Kedua, puasanya dikonsepkan sebagai model keadaan orang yang kelaparan. Penelitian model ini, menyimpulkan bahwa “puasa” menurunkan imunitas.

Objek dan materi yang diteliti di Barat itu berbeda dengan penelitaian yang pernah saya lakukan. Semuanya (yaitu objek penelitian dan konsep puasa), dalam kerangka dan perspektif Islam. Oleh karena itu, saya betul-betul selektif ketika menentukan objek penelitian. Lalu, saat itu, saya memilih santri Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Hasilnya, pada 2005 saya bisa membuktikan lewat disertasi yang –alhamdulillah- telah teruji, bahwa puasa itu betul-betul menyehatkan.

Penelitian saya menyimpulkan bahwa puasa itu meningkatkan potensi responsifitas limfosit, yaitu sel yang berfungsi mengatur irama sistem imunitas (kekebalan tubuh).

Imunitas adalah pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Dalam keadaan sehat atau optimal, imunitas berfungsi secara efisien, sehingga tubuh dapat terhindar dari dampak yang tidak menguntungkan akibat kehadiran substansi asing. Sistem imun yang terpapar oleh imunogen atau patogen (kuman) akan meresponsnya sehingga tubuh kebal terhadap patogen tersebut.

Puasa yang menimbulkan sakit bisa terjadi karena pelaksanaannya dipersepsi sebagai beban. Akibatnya, pengaruh perubahan irama sirkardian (irama biologis tubuh yang bersifat menetap karena sudah menjadi pola) akan predominan sehingga menurunkan imunitas.

Puasa yang dilaksanakan dengan iman yang mantap, apalagi dengan dasar cinta dan semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT, persepsinya akan menuju positive coping style (bentuk penanggulangan stimulus yang positif), sehingga menimbulkan ketenangan. Selanjutnya, ketenangan dapat memperbaiki imunitas.

Hasil penelitian saya menyebutkan bahwa pelaksanaan puasa yang mencapai fase ketenangan merupakan coping mechanism (mekanisme penanggulangan stres) yang positif. Ini dapat mengubah kualitas stres ke fase adaptasi, sehingga puasa ditanggapi sebagai stimulus yang menyenangkan (eustress). Lalu, pusat reward (pengendalian rasa senang) di hipotalamus yang menempati area tertentu di otak, akan merespons berupa penurunan pelepasan corticotropin-releasing hormone (CRH).

Pelepasan hormon CRH yang terkendali akan menyebabkan sekresi (pengeluaran) adrenocorticotropin hormone (ACTH) oleh hipofisis anterior juga terkendali, sehingga pelepasan kortisol sebagai salah satu hormon stres ke dalam darah juga terkendali. Puasa yang mencapai ketenangan berpotensi sebagai stimulus yang menyenangkan bagi tubuh sehingga akan dapat meningkatkan imunitas.

Pelaku puasa mengalami penjadwalan ulang pemasukan bahan untuk keperluan biologis (makan, minum), dari siang hari ke malam hari. Juga, perubahan pola tidur karena aktivitas ibadah shalat tarawih di malam hari serta mengerjakan sahur. Ini menyebabkan perubahan irama sirkardian tubuh diubah dari pola diurnal (aktif di siang hari) menjadi nokturnal (lebih aktif di malam hari) dibandingkan sebelum berpuasa.

Perubahan pola aktivitas tersebut berpotensi untuk menurunkan imunitas. Namun, perubahan kebiasaan tersebut dapat diterima sebagai stressor (stimulus penyebab stres) yang dapat diadaptasi. Perubahan pola makan itu periodik, tetapi tidak terus-menerus (intermitten fasting), sehingga memberi kesempatan adaptasi.

Respons individu terhadap perubahan saat berpuasa, dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat mengubah kualitas stres. Mekanisme demikian akan terjadi pada pelaksana puasa yang berniat ibadah dengan ikhlas. Sebaliknya, coping mechanism yang negatif tidak efektif, dan itu dapat memperburuk kesehatan serta memperbesar potensi sakit.

Orang yang berpuasa semestinya melaksanakan shalat tarawih, memperbanyak mengkaji Al-Qur`an, dan menghindari hal yang tidak berfaedah supaya terhindar dari berpuasa yang sia-sia (yaitu hanya mendapat lapar dan haus saja). Hal tersebut mendorong pelaku puasa mengendalikan nafsu dan emosi serta meningkatkan imannya.

Puasa yang dilaksanakan dengan iman dan selalu dzikir dengan tujuan taqarrub akan mendatangkan ketenangan sebagaiman firman Allah dalam Al-Qur`an 13: 28.

Puasa Ramadan yang dilaksanakan dengan iman akan mendatangkan ketenangan. Coping mechanism yang positif dan efektif akan menyebabkan tubuh dapat beradaptasi dan diharapkan kadar hormon stres kortisol dalam darah terkendali, sehingga dapat mendorong perbaikan imunitas.

Selama berpuasa, terjadi perubahan imunitas dalam rentang fisiologis dan tidak menimbullkan dampak patologis. Juga terjadi penurunan stimulasi sistem syaraf simpatetik pada tahap akhir puasa. Stimulasi sistem syaraf simpatetik yang berlebihan selama aktivitas harian sebenarnya diharapkan menurun dengan shalat lima waktu, tidur yang efektif, sehingga stres psikologis harian bisa hilang. Namun, apabila aktivitas harian sedemikian besarnya, maka stres harian tersebut masih tersisa setelah bangun tidur.

Dengan berpuasa sebulan Ramadan berlandaskan iman yang mantap (dengan mengendalikan emosi dan nafsu), diharapkan dapat mengurangi atau meniadakan sisa stres psikologis (yang merugikan) yang tertumpuk selama sebelas bulan beraktivitas. Pada gilirannya, setelah berpuasa terjadi kondisi kesehatan yang optimal. Hal yang disebut terakhir ini kemudian bisa saya buktikan lewat penelitian ilmiah.

Jadi, ajaran Islam (terutama dalam hal ini, puasa) benar dan mengandung manfaat besar bagi manusia. Sebagai Muslim yang berkesempatan meneliti secara ilmiah soal puasa, saya semakin yakin bahwa ritual agama Islam bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selamat berpuasa Ramadan!

* Penulis lulus program S-3 pada 1 September 2005 dengan disertasi: “Perubahan Respons Psikoneuroimunologis pada Pelaksana Puasa Ramadhan” di Universitas Airlangga

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *