Indikator Bahagia Seorang Muslim

Kebahagiaan memang selalu menjadi sesuatu yang di cari oleh setiap insan yang hidup di muka bumi ini. Berbagai cara di lakukan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Ada Sebagian manusia yang menjadikan tolak ukur kebahagian mereka cukup dengan berkumpul dengan orang-orang yang mereka cintai, seperti orang tua mereka mungkin, atau kerabat dekat mereka.

Ada juga manusia yang menjadikan tolak ukur kebahagianya adalah dengan harta yang banyak, memiliki mobil, kemudian rumah yang bagus, mereka berfikir itu semua bisa mendatangkan rasa Bahagia yang mereka inginkan. Jikalau memang dengan harta yang banyak bisa mendatangkan kebahagiaan terhadap diri manusia, lantas bagaimana dengan Artis asal amerika yang cantik lagi berkecukupan harta yaitu  Marlyn Monroe yang tewas dengan meminum obat depresi dan meminum alcohol hingga overdosis.

Dari kisah tersebut kita belajar bahwa hakikat kebahagiaan yang sebenarnya bukanlah dari kecantikan dan harta yang banyak. Memang pada hakikatnya setiap manusia memerlukan harta untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun kebahagian yang berasal dari materi itu hanya bersifat sementara saja. Sama halnya kecantikan dan ketampanan seseorang itu juga akan mendatangkan kebahagiaan, namun semua itu hanyalah sementara saja. Palingan hanya bertahan sampai umur empat puluh tahun, setelah itu kulit yang dulunya kencang sudah mulai keriput, rambut yang hitam sudah mulai memutih, karena pada hakikatnya yang bersifat sementara pastilah akan ada masanya untuk berakhir.

Lantas bagaimanakah indikator kebahagiaan seorang muslim. Kebahagian yang hakiki yang berorientasi pada dunia dan akhirat.

Pertama memahami bahwa dunia hanya sementara.  Kehidupan di dunia ini hanyalah bersifat sementara, fana, dan seda gurau saja. Allah Subhanahuwata’ala  menyampaikan firmanya dalam Al quran  surat Al-An’am ayat 32 yang artinya “ dan kehidupan dunia tak lain hanyalah permainan dan senda gurau”. Seperti itulah Allah mengumpamakan dunia ini.

Kalau kita sudah memahami bahwa dunia ini tempatnya permainan dan senda gurau, tentu tak ada lagi yang perlu kita sedihkan apa lagi sampai depresi kemudian bunuh diri. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita miliki dan tak perlu iri dengan mereka yang hidup dengan kemewahan duniawi. Tapi kita harus merasa iri apabila ada saudara kita yang rajin sedekah, rajin ke masjid, dan melakukan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Iri dalam artian berfastabiqul khoirot ( berlomba-lomba dalam kebaikan ). Dunia ini hanyalah tempat kita untuk menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya karena setiap manusia pasti akan Kembali kampung halamanya kampung yang abadi yaitu akhirat.

Kedua menjadikan dunia tempat menyiapkan bekal. Tujuan akhir dari kehidupan ini adalah akhirat. Kehidupan yang kekal dan abadi. Dunia ini hanya tempat persinggahan saja, umpama seoarang musafir yang sedang melakukan perjalanan kemudian ia singgah di warung untuk makan dan beristirahat sejenak, setelah ia merasa cukup, maka ia akan melanjutkan Kembali perjalananya.

Kalaulah kita mau menghitung berapa lama Allah memberi kita jatah untuk hidup maka sangat sebentar sekali. Hanya sekitar 60-70 tahun saja kita di beri jatah untuk hidup di dunia ini. Bahkan ajal tidak ada yang tahu bisa jadi masih umur belasan tahun ajal sudah menjemputnya. Lantas masihkan kita berfikir untuk mengumpulkan harta yang banyak, mengejar jabatan dan sebagainya yang bersifat sementara saja. Tentu orang yang beriman akan lebih banyak untuk menyiapkan bekal akhirat mereka tanpa meninggalkan aktifitas keduniaan mereka.

Bagaimana agar aktifitas keduniaan kita bisa menjadi bekal untuk akhirat kelak?. Rasululah pernah bersabda “innamal a’malu binniyat” yang artinya sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung dari niatnya.

Kalau kita ingin membantu orang lain dengan niat karena ingin di puji, Maka itu tidak akan mendapatkan pahala dari Allah. Akan tetapi kalau niat kita membantu orang lain ikhlas karena Allah, maka kita akan mendapatkan pahala dari Allah. Bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan keluarga ikhlas karena Allah juga akan mendapatkan pahala. Dan segala aktifitas duniawi seperti makan, minum, berpakaian, dan lain-lain kalau kita awali dengan bismillah dan niat ikhlas karena Allah, insya Allah itu akan menjadi bekal kita di akhirat kelak.

Dengan memahami bahwa dunia ini hanya bersifat sementara saja maka kita tak perlu berlelah-lelah hanya sekedar untuk mengejar dunia. Orang yang sudah memahami bahwa duni ini fana, mereka akan lebih bersyukur dengan pemberian Allah. mereka akan bersyukur Ketika di beri nikmat berupa harta yang cukup, mereka akan menggunakan harta itu sebagai sarana agar bisa lebih dekat dengan Allah dengan bersedekah misalnya. dan mereka akan bersabar Ketika di beri cobaan oleh Allah. Kerena mereka sudah paham bahwa dunia hanya tempat permainan dan senda gurau yang bersifat sementara saja. Dengan begitu mereka akan merasakan kebahagian yang hakiki yaitu Bahagia dunia dan akhirat.[]
Penulis : Cahyo Rizki (Mahasiswa STAI Luqman Al Hakim)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Our Facebook Page
Open chat